Kamis, 18 Maret 2021

Masalah Sosial Kesetaraan Gender di Korea

 




Judul               : Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982

Penulis             : Cho Nam-Joo

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan           : III, Januari 2020

ISBN               : 978-602-0636-191

Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982 adalah salah satu dari sekian banyak novel Korea Selatan yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Novel ini bisa dibilang sangat kontroversial di negaranya sendiri karena mengangkat isu yang tabu di tempat kelahirannya. Meski saat ini Korea Selatan sudah membebaskan masyarakatnya untuk mengemukakan pendapat, baik itu untuk pria maupun wanita, nyatanya tetap ada hal yang tak bisa dibantah sejak dulu. Salah satunya adalah rasa hormat berlebihan kepada orang tua dan budaya patriarki.

Pandangan bahwa perempuan tak boleh membantah laki-laki hingga istri yang harus tetap di rumah mengurus keluarga masih sangat kental di sana. Parahnya lagi, diskriminasi gender ini seolah dibiarkan saja dalam sistem masyarakat negara tersebut.

Kim Ji-Yeong sendiri adalah anak perempuan kedua keluarga Kim. Ia lahir di keluarga yang sangat mengharapkan anak laki-laki. Di lingkungan keluarga, ia dan kakak perempuannya selalu mendapatkan giliran paling akhir. Yang selalu mengambil nasi lebih dulu adalah ayah, kemudian adik laki-laki dan nenek lalu ibu. Begitu juga dalam pembagian makanan dan lainnya. Ayah dan adik laki-laki selalu mendapatkan yang paling bagus dan bebas mengambil sebanyak apapun, sedangkan mereka mendapat sisa. (Hal. 23-24).

Tak hanya di rumah, di sekolah, Kim Ji-Yeong dan anak perempuan lain juga mendapat diskriminasi yang sama bahkan dari guru mereka. Misalnya masalah pakaian. Anak laki-laki bisa menggunakan kemeja dengan kancing terbuka, sepatu olahraga dan lainnya. Sedangkan bila murid perempuan yang melakukannya, mereka akan mendapat hukuman.

Diskriminasi di Dunia Kerja

Nyatanya, menurut novel ini, diskriminasi yang terjadi terhadap wanita di Korea Selatan tak hanya sampai di tahap keluarga dan sekolah saja. Di dunia kerja yang lebih luas, diskriminasi pun ada. Bahkan lebih parah. Wanita di Korea sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Meskipun ada, gaji yang diterima jauh lebih rendah dibanding pekerja laki-laki. Jumlah pekerja wanita pun sangat timpang.

Contoh dari novel ini adalah Kim Ji-Yeong, meski ia adalah mahasiswi berprestasi, namun ia tak pernah mendapat rekomendasi dan promosi dari dosen untuk bekerja di perusahaan. Sebaliknya, mahasiswa laki-laki yang biasa-biasa saja mendapatkan promosi dengan mudahnya tanpa harus berusaha keras.

 

Menurut statistik yang dikeluarkan oleh OECD atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi, Korea Selatan adalah negara yang memiliki selisih pendapatan paling besar antara pria dan wanita. Dari data pada tahun 2014 lalu, jika pekerja pria mendapat penghasilan 1.000.000 Won, maka rata-rata penghasilan wanita Korea hanya sekitar 633.000 Won padahal beban kerja yang mereka rasakan bisa dikatakan sama. (hal. 123)

Kebanyakan dari pekerja wanita biasanya akan berhenti tatkala mereka menikah atau memiliki anak karena tekanan dari berbagai sisi seperti yang terjadi pada tokoh utama novel ini. Jadi, serba salah sebenarnya bila kembali ditilik dari segi patriarki masyarakatnya. Di satu sisi, bila memilih bekerja, mereka akan dikatakan wanita yang tak menuruti kodrat dan tak bertanggung jawab. Namun, bila memilih menjadi ibu rumah tangga, mereka akan mendapat celaan lain yang sama buruknya.

Tak heran kalau saat ini, Korea menempati urutan bawah pada survei yang dilakukan World Economic Forum tentang kesetaraan gender pada tahun 2019 lalu. Lebih tepatnya, mereka berada di posisi 115 dari 149 negara. Angka tersebut lebih buruk dari Indonesia yang berada di posisi 85, meskipun hal tersebut juga bukanlah hal yang bisa dibanggakan.

Berhenti Menyalahkan Korban Pelecehan Seksual

Di buku ini, kita bukan hanya menemukan masalah patriarki yang sudah mendarah daging. Penulisnya juga menggambarkan bagaimana dengan mudahnya orang -bahkan yang terdekat sekalipun- memberikan stigma negatif dan menyalahkan korban pelecehan seksual.

Ada satu bagian yang mengisahkan saat Ji-Yeong pulang dari tempat kursus di malam hari. Ia hampir saja mendapatkan perlakukan kurang menyenangkan dari seorang pelajar laki-laki. Untungnya, ia diselamatkan oleh seorang wanita dewasa yang menyadari perilaku tak beres dari Ji-Yeong.

Alih-alih memberikan dukungan, sang ayah yang datang menjemput di halte malah memberikan nasihat yang lebih seperti menyalahkan. Kenapa harus pergi kursus ke tempat yang jauh? Kenapa bicara pada sembarang orang bahkan menyalahkan pakaiannya.

Dalam situasi ini, sebagian orang mungkin akan berpikir bahwa semua yang dikatakan sang ayah adalah untuk menyelamatkan Ji-Yeong. Padahal, hal tersebut tidak juga benar. Sang ayah harusnya bisa fokus menenangkan dan melindungi, bukan malah menyalahkan. Sampai di sini, hal ini juga kerap kita temui di kehidupan sehari-hari, kan? Jadi, berhentilah menyalahkan korban. Kita tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Kesehatan Mental

Apalagi yang bisa dipetik dari kisah ini? Isu kesehatan mental adalah yang paling utama. Bahkan, isu tersebut mengambil porsi yang besar dalam kisah Kim Ji-Yeong, Lahir 1982 ini.

Kim Ji-Yeong adalah seorang ibu rumah tangga yang bisa dibilang kehilangan jati diri setelah menikah dan punya anak. Ia disibukkan dengan segudang rutinitas dari pagi hingga malam hari. Bisa dibilang, ia harus berkorban banyak untuk pernikahan yang dijalaninya. Salah satunya adalah kehilangan pekerjaan yang amat ia cintai. Oleh sebab itu, pada satu titik ia seringkali merasa kosong.

Ia memiliki kerinduan yang besar untuk kembali bekerja dan berkumpul bersama teman-temannya. Tapi, ia juga sadar posisinya sangat sulit. Belum lagi tekanan ibu mertua yang mengharuskannya untuk tetap di rumah dan mengurus buah hatinya. Hal itu membuat Ji-Yeong makin kehilangan arah. Untungnya, Dae-Hyeon cepat sadar. Suaminya merasa Ji-Yeong butuh penanganan profesional secepatnya.  Meski Dae-Hyeon cepat sadar, namun beberapa orang di sekitarnya masih tak peduli. Salah satunya ibu mertua yang menganggap Ji-Yeong hanya sakit fisik saja.

Keadaan ini sebenarnya bukan suatu yang awam. Di negara sendiri, masih sangat banyak orang yang menganggap penyintas kesehatan mental ini hanya mencari perhatian, kurang iman dan lainnya. Hal inilah yang membuat banyak orang memilih diam dan enggan bicara atas apa yang mereka alami. Jangan heran, bila pada akhirnya banyak yang lebih memilih untuk mengakhiri hidup.

Kim Ji-Yeong adalah kita. Sepenggal kalimat yang sempat booming beberapa waktu lalu seiring dengan peluncuran filmnya. Dari buku maupun filmnya, kita memang seolah bisa merasakan bagaimana rasa sakit, ketidakadilan dan depresi yang dialami tokoh utama. Penulisnya benar-benar bisa menggambarkan dengan jelas semuanya rasa itu dan inilah kelebihannya.

Cho Nam-Joo berhasil menulis cerita ini dengan sederhana dan dibagi dalam beberapa babak maju mundur. Wajar saja kalau novel yang sudah dibuatkan filmnya ini mendulang kontroversi di negaranya sendiri sebab kebanyakan wanita Korea mengiyakan apa yang terjadi di dalam novel ini benar-benar terjadi di kehidupan mereka.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anak-Anak Pilihan

    Judul                 : Tragedi Apel dan Buku Ajaib Jiko Penulis             : Yosep Rustandi Penerbit            : Indiva Medi...